Rumah 1 Are: Solusi keterbatasan lahan di Bali

Bluprin bersama Indonesia Young Architect (IYA) dan TOSTEM by LIXIL menyelenggarakan Diskusi dan Pameran bertajuk Rumah 100 m2 di HOMEDEC, ICE-BSD, Tangerang. Dipandu oleh Andesita Oki salah satu founder IYA, diskusi ini kembali membedah tentang rumah 100 m2, sebuah tema yang menjadi TOR Sayembara Rumah 1 Are di Bali tahun 2017 lalu.

Rumah 1 Are
Diskusi Rumah 1 Are

Diskusi kali ini menghadirkan tiga arsitek yang juga ikut dalam Sayembara Rumah 1 Are yaitu Widi Adnyana dari Somia Design, Hendra Irwanto dari Platform Architects, Jessica Auditama dari J+A Design, dan satu arsitek senior Ario Andito dari Studio SA_e.

Komunitas Indonesian Young Architect (IYA) yang berbasis di Bali, mengangkat tema rumah 100 m2 (atau biasa disebut 1 are di Bali) sebagai skala metric untuk keperluan ukuran dan atau jual beli tanah sehingga rumah 100 m2 dianggap dapat dijadikan acuan kebutuhan rumah tinggal masa depan. Terdapat 5 skenario penghuni rumah 100 m2 dan tiga lokasi lahan yang dihadirkan dalam pameran ini.

Lima skenario kondisi rumah di antaranya:

  1. Proffesional Millenial Family
    Sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang anak. Sang ayah bekerja di rumah mengelola bisnis online-nya dan sang ibu adalah seorang dokter. Dua orang anak masing-masing berumur 2 dan 4 tahun.
  2. The Single
    Seorang wanita karir, single berumur 45 tahun. Beliau mempunyai sebuah biro graphic design dan juga seorang budayawan. Waktu luang biasa dihabiskan dengan bermain musik dan aktif ber-voluunteer di Yayasan Konservasi Bangunan.
  3. International Family
    Pasangan ini berasal dari Bali dan Australia. Si wanita bekerja sebagai food-blogger dan fotografer, si pria adalah seorang chef di salah satu restoran di Seminyak yang mempunyai hobi surfing dan fotografi. Mereka memutuskan untuk tidak terikat di pernikahan dan mengadopsi satu ekor anjing dan satu ekor kucing.
  4. Productive Family
    Pasangan muda ini baru menikah. Sang suami seorang travel guide dan sang istri ingin membuka warung makanan Bali di rumah. Mereka juga ada ide untuk membuat satu kamar penginapan untuk disewakan.
  5. Multi-Generation Family
    Keluarga ini terdiri dari sepasang kakek dan nenek, kedua anaknya, seorang menantu dan seorang cucu. Anak laki-laki pertamanya baru saja menikah dan membawa istrinya ke rumah ini sedangkan anak perempuan keduanya adalah seorang single parent dan memiliki anak perempuan berumur 2 tahun.

Rumah 1 Are

Widiadnyana saat mempresentasikan tentang Rumah 1 Are

Pada diskusi kali ini Widi Adnyana dari Somia Design menjelaskan usulan desainnya dengan scenario kondisi nomor 5 yang diberi nama Genah Ksukertaan. Rumah ini mempunya 3 level ketinggian lantai dan menciptakan ruang komunal karena terdapat 3 generasi penghuni di rumah ini. Diharapkan para penghuni rumah dapat berkumpul di ruang ini. Widi juga menggunakan atas limasan, material lokal bali dan mengadaptasi bentuk ornament bali untuk pembentuk fasad rumah dengan lahan 5 x 20 meter ini.

Pada Pameran Rumah 100 m2 ini menampilkan 38 karya terbaik dan 15 maket dari 100 Peserta Sayembara Rumah 1 Are. Peserta sayembara adalah para arsitek dan pelaku desain se-Indonesia. Arsitek-arsitek inilah yang diharap semakin kreatif dalam menghadapi beberapa kondisi yang ada, baik berupa keterbatasan lahan, aturan-aturan daerah setempat serta kondisi calon penghuni rumah, siapa mereka, pekerjaan mereka dan jumlah keluarga. Tidak hanya fungsional tetapi juga menyisipkan unsur keindahan di dalamnya.

Adanya Diskusi dan Pameran Rumah 100 m2 ini diharapkan menghadirkan karya arsitektur rumah yang dapat menginspirasi publik serta memberikan wawasan baru bagi arsitek muda Indonesia. Bahwa keterbatasan akan lahan tidak menjadi hambatan untuk terus mengeksplorasi ide-ide yang solutif.